ARSITEK, KOK MALU JADI ARSITEK SIH?
Ibu, Bapak Temen2 yang keren2, Ijin berbagi corat-coret tulisan yaa.
Kalau ternyata dirasakan mengganggu, sila langsung skip atawa pencet tombol del.
805 kata, kurang lebih 4 menit baca.
ARSITEK, KOK MALU JADI ARSITEK SIH?
Kemarin shaiya Zoom-an lagi sama temen-temen dari berbagai penjuru dunia. Macem-macem bidang ilmunya. Acara rutin sih sebenarnya, seperti biasa ngobrol soal behaviour AI.
Namanya juga kumpul sohib akademisi. Mulanya satu topik, lama-lama ngewetan-ngulon ke mana-mana.
Eh, entah gimana, nyasar ke penelitian arsitektur tingkat lanjut.
Teman profesor dari disiplin lain nyeletuk. Kenapa ya, penelitian arsitektur tingkat lanjut kok seringnya cawe-cawe ke bidang ilmu lain?
Filsafat, psikologi, sosiologi, politik, budaya, sampai kajian kota. Tapi kok bahasannya sering nanggung? Cuman nyentuh lapisan luar pulak.
Waduhhh.
Shaiya yang arsitek langsung ngerasa kesindir. Tapi diam-diam mikir. Ada benernya juga, ya?
Coba lihat deh. Arsitek sekarang hebat-hebat, rek. Ngomong kosmologi, bisa.
Filsafat Heidegger, lancar.
Psikologi, antropologi, sosiologi, politik, budaya, arkelogi, spiritualitas. Ayukkk! Hajarrr!
Belum lagi urusan kota. Morfologi kota, ruang publik, perilaku warga, ekonomi perkotaan, ketimpangan sosial, sampai politik ruang.
Wuihhh... martabak komplit!
Bahkan shaiya pernah denger ada yang bilang, Kota itu arsitektur. Sangat arsitektur! Kota itu justru pembahasan yang paling fundamental dalam arsitektur!
Shaiya jadi manggut-manggut aja deh.
Berarti kalau neliti kemacetan, kemiskinan kota, perilaku pedagang kaki lima, atau konflik penggunaan ruang publik, otomatis meneliti arsitektur?
Lha, kalau gitu, apa bedanya arsitektur dengan planologi, sosiologi atau geografi perkotaan?
Tenang. Katanya kan ada kata spatial. Oalahhh…
Bukan berarti kota nggak boleh diteliti oleh arsitek, lho.
Tapi apa yang ditemukan tentang kota itu memang pengetahuan arsitektur, atau pengetahuan bidang lain yang kebetulan terjadi di kota?
Nah, itu kan beda.
Shaiya sampai minder.
Dulu belajar arsitektur bertahun-tahun. Belajar bentuk, ruang, fungsi, struktur, konstruksi, material, orientasi, hirarki, komposisi.
Eh, ndilalah, begitu jadi akademisi, kok malah sibuk mbicarain segala sesuatu di luar itu?
Konon, kalau cuma ngomong soalan hubungan fungsi-bentuk-makna, itu sih kurang filosofis. Kalau mbicarain organisasi ruang, itu kurang kritis.
Tapi kalau udah mbawa Heidegger, Derrida, Foucault, Deleuze... Nah.. ini langsung naik kelas!
Kalau udah bicara kota, ini kan lebih hebat lagi. Skalanya besar, persoalannya kompleks, dampaknya luas.
Bangunan? Ecel, Cemen, terlalu kecil. Small potatoes... mungkin gitu kali ya.
Padahal Branko Mitrović, sohib yang doktor arsitektur sekaligus doktor filsafat, pernah ngritik kecenderungan arsitek yang gemar berfilsafat, sementara persoalan arsitekturnya sendiri kurang diperhatikan.
Shaiya jadi penasaran.
Apa jangan-jangan kita merasa arsitektur terlalu sederhana? Cuma urusan manusia berkegiatan, ruang, bentuk, dan bagaimana semuanya diorganisasikan?
Lha, musik juga cuma urusan bunyi. Linguistik cuma urusan bahasa.
Tapi mereka nggak perlu meninggalkan bunyi atau bahasa supaya terlihat intelektual.
Nah, arsitektur? Kita, eh... shaiya justru makin pandai menjelaskan bagaimana bangunan berhubungan dengan kekuasaan, identitas, kosmologi, bahkan alam semesta.
Shaiya juga makin pandai menjelaskan bagaimana kota berkembang, masyarakat berinteraksi, dan ruang publik diperebutkan.
Bahkan mulai fasih menyitir Henri Lefebvre. Soal sudah memahami betul maksudnya atau belum, itu urusan nanti. Yang penting sitasinya dulu.
Bagus semua.
Tapi pas ditanya gimana fungsi dan bentuk bangunan bekerja bersama membentuk susunan ruang, orientasi, hirarki, dan hubungan antarruang?
Eee... bentar dong. Shaiya mau nyari Heidegger dulu supaya keren.
Atau yuk, sekalian pindah mbahas kota aja gimana? Kan lebih luas!
Yang lebih menarik, ketika ditanya, Lho, arsitekturnya di mana? Jawabannya sering sudah siap.
Penelitian ini punya implikasi bagi arsitektur!
Nah, ini yang bikin shaiya garuk-garuk kepala botak shaiya, walaupun nggak gatel.
Sejak kapan ya, implikasi menentukan identitas disiplin sebuah penelitian?
Misalnya nih, seorang dokter meneliti kesehatan shaiya. Kebetulan shaiya arsitek.
Hasil penelitiannya tentu bermanfaat. Shaiya jadi sehat, bisa mengajar, meneliti, bahkan merancang lebih baik.
Lha, terus, apa penelitian dokter tadi otomatis jadi penelitian arsitektur?
Kalau gitu, semua ilmu bisa jadi arsitektur, asal implikasinya dicocok-cocokkan.
Orang Londo bilang, gathuk!
Padahal sederhana sih. Finding itu apa yang benar-benar ditemukan melalui penelitian. Implication itu temuan tadi bisa digunakan buat apa. Keduanya penting. Tapi beda banget.
Kalau penelitiannya menemukan sesuatu tentang perilaku sosial, ya kontribusi pengetahuan utamanya pada perilaku sosial.
Kalau kemudian hasilnya bisa dipakai buat merancang ruang, bagus sekali!
Tetapi kegunaan itu nggak otomatis ngubah finding sosial menjadi finding arsitektural.
Jangan-jangan shaiya terlalu sibuk mbuktiin bahwa penelitian kita berguna bagi arsitektur, sampai lupa membuktikan bahwa penelitian shaiya itu memang menghasilkan pengetahuan arsitektur.
Jangan salah ya. Shaiya bukan anti filsafat. Bukan anti ilmu sosial. Apalagi anti kajian kota.
Justru semuanya penting!
Tapi mengkaji sesuatu yang berhubungan dengan arsitektur itu nggak otomatis, bim salabim, menghasilkan pengetahuan arsitektur.
Begitu pulak, sesuatu yang bermanfaat bagi arsitektur belum tentu merupakan pengetahuan arsitektur.
Minjem ilmu lain untuk memperdalam arsitektur tentu boleh, bahkan perlu.
Tapi kalau setelah minjem, kalo yang makin mendalam justru ilmu lain, sementara arsitekturnya nggak ketemu...
Lha, ini kita sedang memperkaya arsitektur atau malah pindah jurusan?
Ironisnya, semakin shaiya bicara menjauh dari substansi arsitektur, kadang semakin intelektual kedengarannya.
Mungkin karena membicarakan segala sesuatu lebih menggoda daripada bersusah payah menjelaskan satu hal sampai benar-benar mendalam.
Shaiya jadi teringat pertanyaan sederhana. Mengapa kita begitu bersemangat memperluas batas arsitektur, padahal apa yang ada di dalam batas itu sendiri belum tuntas dipahami?
Jangan-jangan... Bener kata temen shaiya di atas tadi.
Bukan arsitekturnya yang terlalu sederhana. Atau jangan-jangan, kita merasa baru naik kelas kalau sudah nggak membicarakan arsitektur?
Eh, shaiya juga keliatannya termasuk gitu nih...Alamak, ampun, ampun.
Tanggal Rilis
10 Oktober 2026
